Sabtu, 11 Oktober 2014

Sungguh Mantap 3 Entotan Teman Suamiku

Menikah dengan Roni, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Roni dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Roni berangkat kerja dan malam sebelum tidur.
Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Roni bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Roni harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.
Dan mulailah cerita ini ketika Roni mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Bram dari luar kota. Pertama diperkenalkan Bram langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Bram cukup tampan gagah dan kekar.
Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Roni memutuskan agar Bram tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Bram tidur di kamar persis di seberang kamar kami.
Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertelanjang agar jika Roni datang bisa langsung bercinta.
Pernah suatu saat ketika pagi hari kami aku dan Roni bercinta di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Roni dari depan, tiba-tiba Bram muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Roni yang membelakangi Bram dan aku juga tidak tega menghentikan Roni, akhirnya ku biarkan Bram melihat kami bercinta tanpa Roni sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku tahu Bram melihat tubuh telanjangku ketika Roni melepaskan penisnya dan terjongkok di bawah meja.
Setelah kejadian itu Bram lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku.
Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Roni benar2 sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum’at kantor tempat Roni bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Roni . Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik. Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa sangat seksi dan Bram pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar. Sebelum berangkat aku dan Roni sempat bercinta di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternya Bram mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Roni orgasme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Bram mengetahui hal itu.
Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Roni dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Roni berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Bram .
“Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Bram
“Ah bisa aja kamu Bram”,balasku tersipu.
Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Bram meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku.
“Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi”,katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut. Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi. Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Bram meraba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Bram telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Bram yang telah menyudutkanku di dinding dan menciumi leherku dari depan. “Bram apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Bram..lepas..!”,rontaku tapi Bram tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang.
Bram terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas meraba buah dadaku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba tangan Bram mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke selangkanganku. “Bram..hentikan Bram aku mohon..tolong Bram..jangan lakukan itu..”,rintihku, tapi Bram terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir vaginaku yang ternyata telah basah karena serangan itu. Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Bram sudah semakin liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara Roni memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Bram terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Roni yang tidak melihat kami dan meninggalkan Bram dengan G-string hitamku. Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori diperkosa.
Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Roni mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Bram. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Bram, diperjalanan dia hanya mengakatakan “Maaf Sinta..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang jalan kami tidak berbicara apaun. Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu dan masih menyisakan gairah. Tanpa sadar ternyata Bram telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya’, “Sinta aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Bram telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bugilah aku diahadapannya. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku. Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?”Bram..lepaskan aku Bram..ingat kau teman suamiku Bram..jangan..ahh..aku mohon”, erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Bram terus menekan hingga aku berteriak saat penisnya menyeruak masuk ke dalam vaginaku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa celana dalam.
“Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara penisnya yang besar keluar masuk di dalam vaginaku yang sudah sangat basah hingga memudahkan penisnya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku orgasme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Bram mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Bram di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan vaginaku penuh dengan cairan kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Bram terkulai di atasku.
“Maaf Sinta aku tak kuasa menahan nafsuku..”bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Roni pulang hingga pagi harinya.
Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang,, Roni dan Bram berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Bram ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Roni sangat mempercayainya maka dia izinkan Bram pulang sendiri. Bram masuk dengan kunci milik Roni dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya, “Bram..kenapa kau ada di sini?” tanyaku, “Tenang Sinta suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”, aku melihat tubuhnya yang kekar dan penisnya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam “Pantas sajaku semalam vaginaku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga. Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Bram di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan vaginaku hangat sekali, ternyata Bram ada di bawah air dan sedang menjilati vaginaku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta.
Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi vaginaku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai vaginaku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan penisnya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..” erangku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Roni. Akhirnya aku membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjilati buah dadaku sambil terus memasukan penisnya keluar masuk. Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyetubuhi kembai tubuh mulusku..”Kau sangat cantik dan seksi Sinta..ahh” bisiknya ditelingaku.
Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku mengimbangi goyangan liarnya. Hanya suara eranggannya dan suara penisnya maju mundur di dalam vaginaku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku “Ahhh..” aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam, “Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme. Sebentar kemudian Bram lah yang berteriak panjang, “Kau hebat Sinta..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di dalam vaginaku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku. Setelah dia mencabut penisnya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut penisnya dari vaginaku yang masih lapar.
Setelah Roni pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Roni dapat memberikan kepuasan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Roni yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan buah dadaku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta yang kudapatkan adalah bentakannya “Sinta..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita” teriaknya keras. Aku yakin Bram juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Roni di depan komputer dan lampu di kamar Bram. Tampak samar-samar Bram keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku.
Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Bram mengeringkan tubuh. Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah penisnya yang besar dan tegang mengangguk-angguk bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam vaginaku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai vaginaku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Bram, dengan hati yang berdebar kencang dan nafsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Bram dan langsung mengunci pintu dari dalam. Bram sangat terkejut “Sinta..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Roni ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya, Bram hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Bram tersenyum sambil memperlihatkan penisnya yang semakin membesar dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan mengulum penisnya, Bram yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendesah perlahan merasakan penisnya aku kulum dan hisap dengan nafsuku yang sudah memuncak.
Sambil mulutku tetap di dalam penisnya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan vaginaku di mulut Bram yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap vaginaku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Roni yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas penisnya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang. Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lubang vaginaku, rasanya berbeda dengan saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Bram masuk ke dalam vaginaku “Ahh..sssfff..Braaam!” erangku perlahan menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh penisnya memenuhi vaginaku dan menyentuh rahimku. Sungguh suatu sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Bram dengan puasnya terus memainkan kedua buah dadaku memuntir-muntir putingku hingga berwarna kemerahan dan keras “ahh..ahh..” demikian erangan kami perlahan mengiringi suara penisnya yan keluar masuk vaginaku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Bram duduk dan mengulum buah dadaku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah yang selama ini terpendam.
Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Roni mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil mendekap erat Bram dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Bram seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak orgasmeku. Bram merasakan penisnya disiram cairan hangat dan tahu bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya. Selesai aku orgasme sekiat 30 detik, Bram membalikan aku dengan penisnya masih tertancap di dalam vaginaku. Bram mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Bram merasakan penisnya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena vaginaku sudah kembali basah dan siap menerima serangan berikutnya. Dan Bram langsung memompa penisnya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan buah dadaku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara penisnya keluar masuk di vaginaku kembali membakar gairahku dan aku bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Bram.
Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya hingga penisnya menyentuh rahimku. Kupeluk Bram dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Bram dengan menaik turunkan pantatku. Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Bram diketuk Roni, “Bram..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Roni. Langsung saja Bram melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku.
Bram dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak Roni masuk, Roni sempat terkejut melihat Bram telanjang,”Sedang apa kamu Bram” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Bram hanya tersenyum dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Roni dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin menjadi-jadi. Setelah Roni keluar, Bram kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Sinta buka pintunya..sudah aman”. Begitu aku buka pintunya Bram langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless penisnya kembali memenuhi vaginaku “Ahhh..ahh..” erangan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju mundur Bram melahap buah dadaku dan putingku.
Sepuluh menit berlalu dan goyang Bram semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama “Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” desahku “Tahan sayang kita bersamaan keluarnya”, dan benar saja saat kurasakan maninya menyembur deras dalam vaginaku aku mengalami orgasme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan. “Braaammm..,” desahku tertahan. “Ahhh Sinta..kau hebat..” demikian katanya. Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami bergumul. “Terima kasih Bram..kau hebat..” kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku. Roni tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman Bram di sekujur buah dadaku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Roni tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya.
Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Roni berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Bram, kami yang biasanya berenang bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renag, aku syukuri karena hal ini dapat menutupi buah dadaku yang masih memar karena gigitan Bram. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Bram sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Roni sedang asyik berenang kulihat Bram memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan penisnya yang sudah mengacung besar dan tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Ron aku mau ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Roni, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Roni memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti.
Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Bram. Di sana Bram sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “Gila kamu Bram..bisa ketahuan Roni lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi punggungku sambil meremas buah dadaku “Tapi kamu menikmatinya khan?!,” goda Bram sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Bram menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia meremas-remas buah dadaku dan meciumi punggung hingga pantatku, “Gila kau Bram, Roni bisa melihat kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Roni yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Bram pun aku sangat menikmati sentuhan Bram. “Sinta kamu suka ini khan?” tanyanya sambil dengan keras menusukan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang. “AHH..Bram..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Roni tidak akan mendengarnya. Langsung saja Bram memaju mundurkan penisnya di vaginaku..”Ahh.. Bram lebih kencang..fuck me Bram..puaskan aku Bram..penismu sungguh luar biasa..Bram aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Roni.
Bram mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga vaginaku terasa lebih dalam lagi tersentuh penisnya dengan posisi ini,”Sinta..khhaau hhebat..” desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Roni melihat sejenak ke kamar Bram maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang bercinta dengan rekan kerjanya. Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan “Teruuus Bram lebih khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam”, teriaku. “Aaakuu juga Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh.” teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Roni yang tidak menyadari kejadian itu.
Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru dalam hidupku dengan tantangan bercinta bersama Bram. Pernah suatu saat ketika akhirnya Roni mau bercinta denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil susu di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Bram sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang. Penisnya langsung menusuk vaginaku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini. Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku, “Bram kamu nakal” desahku yang juga menikmatinya dan kami bercinta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Bram kudapatkan gairah terpendamku selama ini.
Akhirnya ketika proyek kantor Roni selesai Bram harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Bram menyempatkan bercinta kembali.

Rita Digilir 8 Gelandangan

Hari itu Rita pulang agak kemalaman dari tempat kerjanya di bilangan Senen, jadi kendaraan umum pun sudah agak jarang yang melintas. Sementara menunggu bis yang menuju Depok, Rita duduk sendirian di halte yang agak gelap tersebut. Hingga akhirnya 5 menit kemudian sebuah minibus berwarna gelap berhenti tepat di depan Rita dengan pintu tengah model geser yang sudah dibuka lebar-lebar, dan seketika itu juga dua orang langsung turun dari mobil dan tanpa basa-basi langsung menyeret Rita masuk ke dalam mobil, pintu ditutup dengan cepat dan dengan santainya mobil tersebut kembali melaju.
Kejadian yang tidak sampai tiga puluh detik itu membuat Rita sangat kaget dan lemas. Sementara itu delapan anak muda berandal yang ada di dalam mobil tertawa-tawa riang karena berhasil menculik Rita. Rita diancam agar menuruti kemauan para pemuda berandal tersebut, maka mereka akan memperlakukan Rita dengan baik.
Sementara mobil dilarikan ke sebuah villa di Puncak, Rita diajak berbicara sepanjang perjalanan dengan berbagai pertanyaan seputar dirinya, hingga akhirnya Rita diajak berbicara yang kotor dan porno, bahkan Rita dipaksa untuk mengulang semua perkataan porno yang mereka ucapkan, sementara itu pakaian Rita mulai dipereteli satu persatu.
Pertama-tama Rita dipaksa untuk membuka kancing blousnya sendiri hingga akhirnya blous tersebut dilepas dari tubuhnya. Berbagai pasang mata dimobil itu melotot dengan napsunya melihat tubuh Rita yang lumayan padat itu, terutama dengan sepasang payudara yang masih dibalut bra putih berenda.
Kini giliran rok span Rita yang dipereteli hingga celana dalam berwarna putih model semi G-String itu terlihat dengan jelas. Masih satu jam perjalanan menuju Puncak dan mereka sudah tidak sabar untuk sampai disana dan mengerjai Rita. Rita yang duduk dikursi tengah yang diapit oleh empat pemuda di sebelah kiri kanannya mulai digerayangi oleh beberapa pemuda berandal tesebut. Tangan demi tangan bergentayangan disekujur tubuhnya yang lumayan montok itu. Dengan kaki yang dipaksa mengangkang lebar, para pemuda tersebut bergantian mengusap serta meremas-remas paha dan selangkangan Rita, sementara itu kedua tangan Rita dipaksa untuk masuk ke dalam kolor mereka dan sudah tentu harus menggenggam batang penis yang sudah ngaceng tersebut.
Selama satu jam perjalanan itu, mereka bergantian duduk di sebelah Rita sambil mengerjai Rita, hingga akhirnya mobil sampai dipersimpangan jalan dekat villa tersebut, dan disana sudah menunggu tigal mobil minibus penuh dengan para penumpangnya, dan mereka beiringan menuju villa yang dituju. Mobil yang ditumpangi Rita langsung diparkir didalam garasi, sementara yang lainnya parkir di pekarangan villa besar tersebut.
Waktu menunjukkan jam setengah sebelas malam dan keadaan begitu sepi dan tidak ada seorang pun yang lewat disana. Para pemuda berandal itu langsung masuk ke dalam, dan pintu langsung dikunci. Sementara itu Rita yang hanya memakai bra dan g-string putih serta sepatu hak tinggi dibawa masuk lewat pintu samping yang ada di dalam garasi. Dan betapa terkejutnya Rita begitu masuk keruang tengah villa besar tesebut. Disana ada tiga puluh empat pemuda yang menunggunya, ditambah lagi dengan delapan orang lagi yang menculiknya tadi, hingga total semuanya ada empat puluh dua orang.
Rita disuruh duduk di kursi sofa di tengah ruangan itu, dan salah seorang membawakan roti dan minuman dingin dan Rita dipaksa untuk menghabiskan makanan tersebut, agar tidak lapar. Sementara Rita menyelesaikan makanannya, beberapa orang memasang kamera handycam di berbagai sudut ruangan dan mengarahkannya ke tengah ruangan dan ke arah sofa tempat Rita duduk. Yang lainnya sudah memulai membuka baju masing-masing hingga hanya memakai kolor saja. Rita berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya ia takut sekali melihat lelaki telanjang begitu banyak dihadapannya.
Rita pun mulai diperkosa dan dikerjain. Bebarapa orang mulai membuka celana dalamnya di depan wajah Rita, dan memaksa Rita untuk mengulum penis mereka yang sudah ngaceng berat. Mulut Rita pun disibukkan oleh penis yang keluar masuk mulutnya dengan paksa secara bergantian. Kepala Rita pun dipegangi dari arah belakang sehingga sulit bergerak, sementara itu batang penis demi batang penis terus bergantian dilingkari oleh bibir Rita dan memaksa untuk masuk lebih dalam sehingga sepasang buah sakar bergelantungan memukul-mukul dagu Rita dengan cepat ketika batang penis masuk hingga mentok dipangkalnya.
Dalam keadaan duduk tegak Rita terus dipaksa meng-oral kejantanan para pemuda beandal itu, sementara itu yang lain menggerayangi tubuh Rita yang sintal itu, sambil memaksa tangan Rita untuk mengocok penis mereka bergantian. Setengah jam sudah berlalu dan keadaan makin memanas hingga akhirnya Rita mulai disetubuhi bergantian.
Rita disuruh berdiri dan nungging ke arah depan, G-string Rita dimiringkan ke arah kiri, dan mulailah Rita disetubuhi dari arah belakang. Beberapa batang penis langsung bergantian keluar masuk vagina Rita yang masih lumayan sempit itu. Beberapa pemuda berandal mengoleskan minyak pelicin di penis mereka yang sudah ngaceng itu, dan dengan napsunya mereka saling berebutan ingin menyodok vagina Rita dari belakang, sementara itu yang lain mengantri untuk dioral Rita, sambil meremas-remas payudara Rita yang masih dibungkus bh putih itu.
Habis sudah Rita diperkosa dari depan dan belakang. Bahkan mereka membopong Rita ke atas meja makan yang cukup besar, dan Rita pun dipaksa mengangkang lebar-lebar lalu seperti biasa diantri rame-rame. Mulut Rita pun tak kalah sibuk dengan dipaksanya Rita mengulum penis demi penis, bahkan ada yang berjongkok diatas wajah Rita, dan memaksa Rita untuk menjilati pantat mereka satu persatu, sambil sesekali mereka menekan-nekan wajah Rita secara bergantian diselangkangan mereka, hingga penis mereka terjepit diantara wajah dan perut mereka.
Salah seorang membetot G-string Rita hingga lepas dari selangkangannya dan secara bergantian digunakan untuk mengocok batang penis mereka. Dengan bernapsu mereka terus mengocok penis mereka sambil dengan menggunakan G-string putih Rita sambil menempelkan ‘topi baja’ nya diwajah Rita, setelah puas menggunakan G-string Rita, celana dalam itu lalu disumpalkan ke dalam mulut Rita hingga tak bersisa diluar, sementara itu sekitar dua puluh orang masih mengantri di depan selangkangan Rita sambil sesekali memainkan penis mereka karena sudah tidak tahan untuk menikmati tubuh Rita yang lumayan montok itu.
Lima belas orang mengantri di depan wajah Rita sambil berusaha mendapatkan oral dibibir seksi itu. G-string Rita yang sudah basah itu dikalungkan di leher Rita dan Rita pun kembali dipaksa mengoral batang-batang penis yang horny itu, namun kali ini mereka ingin di-oral sampai ngecret. Penis panjang hitam dan bau keluar masuk mulut Rita, sementara yang lain bergantian menglosor-glosorkan penisnya di muka Rita. Tidak sampai dua menit penis hitam itu muncrat di dalam mulut Rita yang mungil itu dan memuntahkan air mani berkali-kali didalam mulut Rita, sementara wajah Rita ditekan dalam-dalam keselangkangan orang tersebut, hingga semua air mani tertelan ludes ke dalam tenggorokan Rita, sementara yang lain dengan cepat mengambil bagian yang sama, bahkan beberapa orang yang sudah tidak tahan lagi mengocokan penisnya dimuka Rita sampai muncrat diseluruh bagian wajah dan ambut Rita.
Beberapa orang bergantian dioral Rita dan ketika ingin muncrat mereka mencabut penisnya dari mulut Rita dan memuncratkan air maninya di dahi dan batang hidung Rita hingga air mani bertetesan hingga ke buah dadanya yang 34 B itu. Wajah Rita yang sudah blepotan air peju itu tetap dijadikan bulan-bulanan berejakulasi para pemuda berandal itu. Sementara yang lain berusaha mengeluarkan airmaninya di mulut dan wajah Rita, salah seorang sibuk menyendoki air mani yang ada diwajah Rita dan Rita pun dipaksa menelan air kental tersebut. Para pemuda yang sudah muncrat dimuka Rita, mengulangi lagi ejakulasinya dan dikumpulkan didalam gelas, hingga terkumpul hampir satu gelas. Dan setelah semua selesai berejakulasi diwajah Rita, mereka membawa Rita yang sudah blepotan itu ke kursi sofa diruang tamu, dan sperma yang masih blepotan diwajahnya kembali disendoki oleh dua orang dan dikumpulkan jadi satu di dalam gelas. Setelah bersih tandas, Rita pun dipaksa menyedot airmani digelas tersebut hingga habis.
Besok paginya Rita kembali dikerjain, Rita yang hanya memakai bra dan G-string putih dipaksa masuk ke dalam kolam renang yang terletak dibelakang villa. Di kolam yang hanya sebatas perut Rita dipaksa mengocok penis yang sudah ngaceng tegak didalam kolam dengan kedua tangannya, sedangkan, gunung kembarnya diremas-remas dengan gemas bergantian oleh beberapa orang. Sambil mengocok penis, Rita dipaksa menjepit penis diselangkangannya dari arah belakang, dan digerakkan maju mundur membuat pelakunya sangat horny berat, dan nggak sampai lima menit benang-benang sperma bermunculan dari bagian depan selangkangan Rita, pertanda batang penis yang dijepit di selangkangannya berejakulasi.
Kemudian yang lainpun bergantian menjepitkan batang penisnya di selangkangan Rita. Batang penis yang berada ditangan Ritapun tak bertahan lebih lama lagi dan memuncratkan peju sangat banyak, hingga membuat air di kolam renang mini itu dipenuhi benang-benang sperma, dan salah seorang berusaha menyerok sperma air peju tersebut dengan saringan, dan Rita pun dipaksa mengunyah sperma mereka yang terkumpul di saringan tersebut hingga habis.
Sebagian lagi memilih untuk menyetubuhi Rita di dalam kolam. Ritapun disandarkan dipojok kolam dengan kaki mengangkang lebar, dan secara bergantian Rita dikocok maju mundur dengan cepat hingga air dikolam beriak-riak. Beberapa orang bergantian duduk di pinggir kolam mengangkangi kepala Rita, dan memainkan batang penisnya di kepala dan wajah Rita hingga akhirnya mereka tak tahan lagi dan berejakulasi di wajah dan di rambut Rita. Airmani bermuncratan di atas kepala Rita dan membasahi wajah dan mulutnya. Bahkan ada yang langsung memaksa Rita membuka mulutnya dan memuncratkan air maninya didalam mulut Rita. Setelah hampir dua jam dikerjain di dalam kolam, seperti biasa wajah Ritapun bermandikan peju kental putih, dan beberapa orang menggiring Rita kepembilasan air hangat di dalam rumah. Dan sekali lagi lima orang yang belum puas kembali mengerjai Rita, dengan memaksanya mengoral penis mereka dibawah pancuran air hangat, hingga satu persatu berejakulasi di dalam mulut Rita, dan Rita pun dipaksa menelan seluruh airmani yang muncrat dimulutnya.
Setelah diistirahatkan selama beberapa jam, malamnya sebagai acara terakhir mereka mendadani Rita secantik mungkin, yang dilakukan oleh special juru rias yang mereka panggil, Rita dikenakan G-string dan bra berwarna hitam yang baru. Dan kali ini mereka tidak akan menyetubuhi Rita, tapi akan diadakan acara bukakke, dimana Rita hanya disuruh duduk di kursi sofa dengan menyandar, sementara mereka akan memainkan penisnya di depan Rita hingga mereka berejakulasi di wajah Rita. Kamera videopun sudah siap merekam adegan bukakke itu.
Sebanyak lima puluh pemuda yang sudah telanjang langsung mengocok-ngocok penisnya dan beberapa orang langsung berdiri mengangkangi Rita dan dengan hornynya mereka menggesek-gesekan batang penis mereka yang sudah ngaceng itu ke wajah Rita sambil menekan-nekan wajah Rita yang cantik itu hingga akhirnya mereka bergantian muncrat di wajah Rita yang seksi dan yang lainnya pun bergantian pula memuntahkan di muka, rambut dan payudara Rita, hingga wajah Rita kembali bermandikan sperma kental sebanyak lima puluh porsi itu.
Sebagai penutup acara salah seorang membuka G-string hitam Rita, dan menyekanya ke muka dan payudara Rita yang sudah berlumuran peju itu, kemudian meyumpalkannya ke mulut Rita dalam-dalam. Masih belum bersih peju di wajah dan rambut Rita, salah seorang lagi membuka bra hitam Rita dan kembali membersihkan wajah Rita dengan bra tersebut hingga bersih, dan dengan gemasnya menyumpalkan bh tersebut ke dalam mulut Rita yang sudah terganjal celan dalam itu, hingga akhirnya bh dan celana dalam tersebut masuk semua menyumpal mulut Rita, dan salah seorang mangambil plester berwarna silver dan memplester mulut Rita yang sudah tersumbat itu, kemudian membiarkannya selama dua jam, dan membuat mereka sangat puas sekali.angat puas sekali.

Suster Cantik Itu Nikmat

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat dirumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu.Dan dalam urusan asmara, khususnya “bercinta” saya sama sekali belum memilikipengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karenasemuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira
adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala
pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama
itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku
terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah
sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan
teman-temanku datang membesukku saja.
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat
duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya,
jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.
Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun,
saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya
memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku
untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil
suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik
dimataku itu masuk ke kamarku.
“Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku
membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan
menggiurkan.
“Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini
panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya
sudah boleh mandi hari ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih
muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang
khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
“Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti
tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum”, jelasnya
ramah.
Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku seolah berdesir
keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau
memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.
“Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-
ngga ya. hi hi hi”.
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus
kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan
menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok”, elakku
sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.
“Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak
bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-
bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya”, lanjut Mbak Ira lagi
seolah memancing gairahku.
“Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa”
jawabku serius, saya tidak mau terlihat “nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula
saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia
mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.
“Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil
membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya
tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah
pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga
sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan
halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah
lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang
dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di
permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini.
fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas
pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung
kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang
ereksi.
“Iya Mbak..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan
tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat
kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan
perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin
agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi
saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.
“Ahh, geli dan enak banget”, pikirku.
“Wah, kok jadi keras ya? he he he”, saya kaget mendengar ucapannya ini.
“Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku
langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani
berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia
sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan
jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.
“Ahh, geli Mbak. Jangan digituin”, kataku menahan malu.
“Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini”,
lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin
terus di”kerjain” oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan
orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.
“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Ira kepadaku.
“Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan
berbicara.
“Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi.
“Belum mbak” jawabku lagi.
“hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”, lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya
“main” apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal” pikirku saat itu.
“Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-
main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil
memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.
“Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya
cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani
membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat
geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong
lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.
Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya
mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bias gawat”, katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan
berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan
kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu.
Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai
saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga
saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat
dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun
mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman.
Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan
kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat
meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku,
kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali
menggigitnya.
“Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram
sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya.
Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas
kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira
memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku,
dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan agar tidak
menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-
gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata
dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas
posisi kakiku.
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya
dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik
memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan
sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.
“Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar
orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga.
“Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget”, pintaku karena
memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti
adegan film BF yang biasa kutonton.
“Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin
oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat
gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar,
kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya,
disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
“Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya
untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu
cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam
mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang
kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah
tahu bahwa saya akan segera “keluar”, Mbak Ira menghisap semakin kencang,
disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak
sekali.
“AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat
kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang
kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang
kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih,
sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan
kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini
memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya
cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh
belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku
secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri
kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang
dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga
desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira
tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan
digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting
susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.
“Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Ira sambil mendekati
diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja
dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat
kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali
basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
“Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa saya
mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput
darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati
permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit
terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih
asyik “bermain” di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku
dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya,
sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat
kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira
sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan
memeknya sendiri.
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar”, teriaknya
sambil mempercepat gosokan tangannya.
“Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena teringat adegan film
BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme
dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.
“Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku
benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.
Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-
bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar
kelentitnya.
“Ahh.. ahh..”, desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat
yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya
saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan
gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya.
Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas
pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami
sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling
merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya
sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama
SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya
keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan
sekedar esek-esek.
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit
itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain
hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering
merasa “horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama
suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira.
Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi
hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar  fantastis menurutku.

VISITOR

Diberdayakan oleh Blogger.